Internasional

Dilema Standarisasi Pencak Silat Dalam Arus Perubahan

183
×

Dilema Standarisasi Pencak Silat Dalam Arus Perubahan

Sebarkan artikel ini
Dilema Standarisasi Pencak Silat Dalam Arus Perubahan

Jakarta, korankabarnusantara.co.id – Eksotisme atau keunikan pencak silat identik dengan keunggulan komparatif, yaitu suatu keuntungan dari aspek karakteristik pencak silat atau keunggulan relatif dibandingkan beladiri lainnya. Namun. tidak serta keunggulan itu seketika atau secara instan mencapai prestasi yang diharapkannya, tanpa proses, waktu dan langkah langkah masif melalui upaya konkret pelestarian, pengembangan dan promosi pasca diakui UNESCO.

Fakta, bahwa aksi transformasi dan modernisasi telah merubah karate, taekwondo maupun wushu, menjelma menjadi produk industri! olahraga dan industri kreatif yang mengglobal, termasuk menembus Olimpiade. Selain karena upaya inovasi dan kreativitas dari para pelakunya, negara hadir mendukung melalui beberapa cara signifikan, seperti menjadikannya kurikulum mata pelajaran wajib di sekolah, akademi atau institut, mengakui secara resmi eksistensi organisasi atau asosiasi beladiri tersebut, serta berperan aktif mempromosikannya di tingkat nasional dan internasional.

Beladiri apapun memiliki potensi untuk dieksploitasi atau dikembangkan secara kreatif dan inovatif, karena itu standarisasi menjadi salah satu pilihan dengan tujuan agar kompetitif dan adaptif di era global ini. Sistem atau program standarisasi tidak hanya soal keseragaman atau keselarasan teknik dan gerak, tetapi juga mencakup metode pelatihan, silabus atau materi ajar, regulasi peraturan/pedoman pertandingan, lomba maupun eksebisi, sistem kompetisi, sistem penilaian atau pengamatan (evaluasi) dan termasuk standarisasi event penyelenggaraannya.

Proses standarisasi itu masif. sistematis dan terstruktur, serta dipastikan mengacu pada regulasi induk organisasi beladirinya dan pengakuan dari Komite Olimpiade Internasional (IOC). Kendatipun standarisasi diperoleh melalui suatu proses yang panjang, namun demikian tetap mampu menjaga kualitas maruah keseimbangan nilai nilai
tradisi dan spritualitas (filosofi), tanpa harus menggerus dan mendegradasi spritualitas Bushido (karate), Konfusianisme atau Taotisme (wushu) dan Hongik-ingan (taekwondo) yang berfungsi sebagai landasan filosofis dan pengembangannya. Fakta lain, spiritualitas nilai nilai luhur pencak silat justru dilematis dalam konteks pengembangan atau standarisasi di era arus perubahan yang kompetitif ini.

Premise.atau gagasan standarisasi sudah ada jauh sebelum pencak silat dipertandingkan, kemudian dalam perkembangannya berdasarkan penetapan regulasi sistem peraturan pertandingan dan standarisasi jurus baku, pencak silat dengan kategori nomor tanding dan nomor TGR (Tunggal, Ganda dan Regu) dikompetisikan secara periodik di tingkat nasional dan internasional. Tujuan mempertandingkan, diantaranya untuk penguatan kualitas pelestarian dan pengembangan yang berkelanjutan, mempromosikan pencak silat sebagai olahraga prestasi dan seni budaya, serta tujuan persaudaraan melalui penyatuan berbagai aliran dan perguruan pencak silat, di bawah naungan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

Substansi dilema nomor tanding biasanya terkait kualitas performa pertandingan yang hanya untuk tujuan pencapaian point dan meraih kemenangan semata. Hal itu boleh jadi jarena sebab pencak silat sebagai olahraga prestasi, bersifat kompetitif yang fokus pada kemampuan teknik dan kekuatan fisik. Namun demikian dalam praktik mestinya tetap mengutamakan kaidah tradisi dengan mengintegrasikan aspek spritualjtas, seni dan beladiri sebagai kesatuan utuh. Selain peraturan pertandingan, aspek penilaian dan pelanggaran yang acapkali menjadi muara polemik atau dilema pada nomor tanding.

Sementara itu, hal yang sama nomor Tunggal, Ganda. dan Regu , (TGR) pun dilematis, seperti pada materi teknik dan jurusnya yang memiliki tingkat kesulitan atau tantangan, karena itu tidak semua tingkatan pesilat dapat dengan mudah mempelajari dan menguasainya. Selain perubahan peraturan pertandingan dan kualitas pelatih serta penataan sistem penilaian atau penjuriannya.

Aspek seni budaya pada nomor TGR, masih terasa lebih kuat, seperti halnya nomor seni (festival) apabila dibandingkan dengan nomor tanding, tanpa iringan musik dan kalaupun disertakan unsur tata busana, aksesori, koreografi dan unsur kreativitas sifatnya artificial, hanya sebagai unsur pelengkap tanpa diganjar point penilaian.

Standarisasi nomor Tanding dan nomor TGR, memastikan tidak mengubah persepsi pencak silat sebagai olahraga prestasi semata, sejatinya pencak silat tradisi atau nomor seni beladiri merupakan basis atau embrio dari nomor tanding dan TGR yang dikembangkan dan dimodifikasi untuk memenuhi regulasi di tingkat nasional maupun internasional.

Pun pilihan prestasi melalui nomor solo kreatif, meski tidak diintegrasikan dengan regulasi program prestasi, seperti halnya nomor tanding dan nomor TGR, Hal itu, karena esensinya sebagai ekspresi estetik atau seni budaya yang fokus di jalur pelestarian, diiringi. musik, koreografi dan unsur artistik lainnya yang mengutamakan inovasi dan pengembangan kreativitas (nomor festival). Nomor solo kreatif bukanlah “nomor baru”, penampilannya memiliki kesamaan bentuk atau identik dengan nomor tunggal tangan kosong dan bersenjata (putra/ putri) dan kategori lainnya, namun tidak secara eksplisit dinyatakan sebagai nomor “kreatif”.

Wushu yang berakar dari budaya kuno Tiongkok telah mengglobal, karena dalam proses standarisasinya mampu mengintegrasikan penyatuan berbagai aliran seni beladiri tradisional, termasuk gaya Utara dan gaya selatan. Representasi nomor sanda (tanding) dan taolu (seni) seperti jurus tangan kosong, jurus bersenjata golok, pedang. tombak, Toya serta nomor wing Chun dan nomor tai chi, adalah nomor yang mengutamakan keindahan gerak dan jurus (koreografi) diiringi musik instrumental tradisi khas Tiongkok maupun musik non tradisi (modern). faktanya akan melenggangkan wushu ke Olimpiade, tanpa hambatan kultural dan friksi antara standarisasi dengan nilai tradisional, seperti juga karate dan taekwondo. Sementara pencak silat justru dilematis, karena friksi antara kepentingan pelestarian dengan arus perubahan yang menghendaki standarisasi atau modernisasi, tetapi khawatir berpotensi menggerus keragaman dan keunikan pencak silat.

Hambatan kultural dan substansi teknis terkait materi standarisasi, memiliki tingkat kesulitan yang tidak mudah dikuasai pesilat pemula, apalagi dipelajari oleh masyarakat umum, oleh karena itu, seharusnya menjadi tantangan tersendiri untuk melakukan upaya inovasi dan kreativitas, sembari terus menggencarkan sosialisasi dan promosi nomor tanding dan TGR. Merujuk pada pembelajaran pencak silat, yaitu dengan prinsip sederhana, mudah, praktis dan logis, perlu kiranya diusulkan atau digagas suatu materi alternatif pembakuan jurus yang berbasis pencak silat tradisi, tidak hanya fokus untuk beladiri dan kompetisi semata, tetapi juga untuk hiburan, seni pertunjukan, kesehatan maupun untuk kebugaran, model senam pencak silat.

Pilihan standarisasi itu mengacu pada konsep “sport entertainment” atau “sport performing arts” dengan maksud mempopulerkan pencak silat dikalangan masyarakat luas, sedangkan tujuan utamanya menjadikan pencak silat bagian dari gaya hidup masyarakat sehari hari, fokusnya adalah mempromosikan manfaat nyata atau praktis yang mudah diakses, bukan hanya sekedar aspek olahraga dan seni yang kompleks. Berbarap pendekatan ini, akan menarik perhatian dan minat, tidak hanya insan pencak silat, tetapi juga untuk masyarakat pada umumnya, tentu agar pencak silat tidak bersifat eksklusif.

Ekspektaksi standarisasi pencak silat yang diintegrasikan dengan materi muatan lokal pencak silat sebagai ekpresi budaya, menjadi materi ajar di sekolah dalam sistem kurikulum formal yang efektif, terstrutur dan sistematis, sesuai tujuan kurikulum nasional berbasis pada pengembangan karakter dan kearifan lokal, kiranya harus diusulkan atau diinisiasi untuk mempercepat pemasyarakatan pencak silat secara nasional dan internasinal. Keseimbangan antara kompetisi dengan pelestarian harus tetap terjaga untuk memastikan pencak silat terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

Pencak silat sebagai produk budaya dalam konteks program pelestarian, mestinya tidak hanya fokus untuk tujuan kompetisi, lomba atau ditandingkan semata, tetapi juga disandingkan dalam suatu bentuk event atau kegiatan yang bersifat selebrasi dan apresiatif, menekankan proses bukan hasil achir, menumbuhkan apresiasi dan penghargaan, menciptakan ruang kolaborasi bukan persaingan atau rivalitas, mengedukasi perayaan dan keberagaman, dan menciptakan kebersamaan.

Tujuan utama disandingkan adalah untuk mencegah terjadinya etnosentrisme, egosentrisme, dan rivalitas budaya yang secara inheren menciptakan superioritas budaya, keyakinan seolah aliran maupun perguruan silatnya lebih unggul dari yang lainnya. Kata kuncinya, festival pencak silat (tradisi) apapun namanya tidak harus dimaknai dengan aksi lomba atau dikompetisikan.

Oleh karena itu, peningkatan kualitas penyajian atau tampilan pencak silat tradisi melalui program pelatihan penataan dan pengemasan berbasis inovasi dan kreativitas, agar berdaya saing atau kompetitif dengan seni pertunjukan lainnya. Tujuan utama disandingkan adalah untuk mencegah terjadinya etnosentrisme, egosentrisme dan rivalitas budaya yang secara inheren menciptakan superioritas budaya, keyakinan seolah suatu aliran pencak silat maupun perguruan pencak silat lebih baik atau unggul dari yang lainnya.

Kata kuncinya, festival pencak silat (tradisi) apapun namanya, tidak harus dimaknai dengan aksi lomba atau kompetisi semata. Pelatihan pengemasan berbasis inovasi dan kreativitas, akan memberi penguatan kualitas penyajian atau performa dan tampilan pencak silat tradisi agar mampu menjadi industri budaya atau industri kreatif di era global yang kompetitif ini. Berharap, upaya standarisasi, promosi dan hadirnya negara, dapat merefleksikan spirit kekinian pencak silat yang adaptif dan kompromistis dengan arus perubahan, mendunia dan menembus Olimpiade.

(Wahdat MY/Pegiat Pencak Silat)