Nasional

Selayang Pandang Pengemasan dan Proses Kreatif Pencak Silat

747
×

Selayang Pandang Pengemasan dan Proses Kreatif Pencak Silat

Sebarkan artikel ini

Jakarta, korankabarnusantara.co.id – Berbasis inovasi dan kreativitas yang fokus pada upaya pengembangan atau modifikasi, istilah pengemasan seni “packaging” tentu tidak asing di jagat seni pertunjukan “performing arts”, melainkan hal lazim dan krusial, terutama kaitannya dengan proses kreatif dalam menyajikan atau menampilkan suatu karya seni pertunjukan agar lebih menarik, adaptif, efisien serta kompetitif dalam konteks industri kreatif dan pariwisata.

Strategi pengemasan merupakan bagian integral dari giat revitalisasi dan pelestarian berkelanjutan, bertujuan agar budaya tradisi tetap eksis tidak lekang dimakan waktu dengan mengacu pada format spirit kekinian yang relevan dan kontekstual tanpa menggerus akar budayanya.

Pengemasan dan proses kreatif saat ini memang sangat signifikan, terutama bagi pegiat seni pertunjukan berbasis seni tari, musik, teater dan wayang, seolah telah menjadi kebutuhan esensial (primer) dalam mempresentasikan
ide maupun gagasan strategisnya melalui ekspresi budaya yang dapat diakses dengan mudah, dihargai dan dipahami oleh audien atau khalayak luas.

Namun fakta lain, pencak silat sebagai warisan budaya dalam aksi pengemasannya tidak gencar dan tidak semasif seni tari dan seni musik. Hal ini boleh jadi alasan aspek historis dan budaya, karena pencak silat lebih mengutamakan fokus pada fungsi praktis sebagai ilmu beladiri, bukan seni pertunjukan untuk tujuan hiburan. Selain hambatan kultural dan karakteristik melekatnya nilai nilai luhur, sikap eksklusif atau merujuk pada mentalitas dan praktik menutup diri dari pengaruh dunia luar, berpotensi menyebabkan tertinggalnya proses kreatif dan pengemasan pencak silat yang berorientasi pada modernisasi, kolaborasi, adaptasi dan promosi dalam
konteks untuk memenuhi tren di kalangan generasi muda dan masyarakat global.

Oleh karena itu, sikap inklusif yang membuka sekat batasan seni tradisi, ruang aksesibilitas, merangkul keberagaman dan prinsip universal dalam proses pengemasan seni, justru telah merubah karate, wushu dan taekwondo menjelma menjadi bagian dari industri¹ kreatif yang mengglobal dan menembus Olimpiade. Aksi Pengemasan dan proses kreatif pencak silat bersifat temporer dan sporadis merupakan isu yang sudah lama ada dan terus berkembang.

Hal ini karena upaya untuk menampilkan atau melestarikannya sering kali terjadi secara tidak teratur, tidak berkelanjutan dan hanya untuk tujuan atau acara tertentu. Beberapa diantaranya pernah dilakukan PB IPSI dan PERSILAT dalam kaitan misi atau duta budaya ke beberapa negara dengan menampilkan paket kemasan demo dan seni pertunjukan pencak silat, seperti Fragmen “Abah Kaher”, Singapura (1980), Kejuaraan Dunia, Wina (1985), Fragmen. “Rebutan Ronggeng”, Belanda (1989), Koreografi pencak Silat “Martial Arts Bercy Festival” Paris, Amsterdam Festival, Belgium Open dan Paris Open (2003- 2007), Demo dan Koreografi, Arab Saudi dan ChungJu World Martial Arts Festival, Korea Selatan (2005), Koreografi pencak silat, Moskow (2006), Fragmen pencak silat, Festival Brissbane, Australia (2008).

Aksi pengemasan di Indonesia sendiri, terutama dalam kaitan sebagai materi opening ceremony atau pembukaan maupun sebagai substansi dari materi event tersebut, diantaranya PON, Sea Games, Asian Games, Kejuaraan Dunia Pencak Silat, Jambore Pencak Silat Seni, Temu Pendekar, Festival Pencak Silat Marioboro, Festival Pencak Siat Tradisi Betawi, Festival Pencak Silat Jabar, Festival Silat Budaya Kuntau, Festival Pencak Silat Nusantara, Festival Pencak Silat Seni Tradisi Open, Festival Silek Tradisi Nusantara, Festival silat Tradisi Gelanggang Silih Berganti, dan event sejenis lainnya.

Pertunjukan atau peragaan teknik gerak dan rangkaian jurus dasar pencak silat khas masing masing perguruan atau aliran, tanpa modifikasi, tanpa penataan koreografi tanpa iringan musik maupun dukungan aspek. artistik, merupakan bentuk yang paling sederhana dari pengemasan pencak silat. Sedangkan bentuk pengemasan dengan unsur koreografi, musik dan artistik, merupakan pertunjukan pencak asilat berbasis pada penataan ragam gerak (modifikasi), komposisi, pola lantai, leveling, musik (tetabuhan), rias busana dan properti, Kemudian dari bentuk tersebut, Proses kreatif lebih lanjut dengana mengintegrasikan unsur tarian, narasi atau cerita (dramaturgi), termasuk unsur audio visual dan multimedia, akan menjelma menjadi bentuk pertunjukan teater pencak silat, sendra pencak silat maupun fragmen pencak silat.

Pendalaman, eksplorasi, kolaborasi, keunikan dan orsinalitas memang merupakan elemen krusial dalam proses kreatif untuk menghasilkan suatu penggarapan yang berkualitas, apapun bentuk pengemasan pencak silatnya. Strategi pengemasan memastikan spirit pembaharuan pencak silat, termasuk bentuk koreografi atau komposisi baru yang merupakan hasil eksplorasi melalui proses transfer dan penyadapan motif ragam gerak kolaborasi dari berbagai perguruan pencak silat.

Eksplorasi komposisi baru konteksnya sebagai seni pertunjukan dan koreografi yang berakar dari kearifan tradisi, menjadi pilihan utama bentuk materi Tim Demo Pencak Si Indonesia (Duta Budaya) dalam mengikuti berbagai festival internasional di mancanegara, terutama event “World Martial Arts Festival” di Bercy Paris (2003 – 2012).
Festival bergengsi tingkat internasional yang diikuti beragam disiplin seni beladiri dari berbagai negara di dunia, peserta selektif (kuratorisas}, pilihan terbaik di negaranya, praktisi kelas dunia atau kalangan master dan juara dunia, bersifat selebrasi atau demontrasi non kompetisi, materi penampilannya unik,! menarik, berkualitas dan representatif, serta spektakuler karena disaksikan ribuan penontonnya.

Pengemasan koreografi, fragmen dan paket paket pertunjukan lainnya, ada juga dilakukan oleh perguruan pencak silat, utamanya untuk tujuan estetis, pelestarian, promosi, sarana edukasi, panggung festival dan budaya (wisatawan) serta memberikan manfaat ekonomi. Pun ada juga komunitas yang khusus menyelenggarakan suatu event festival dengan materi sendra pencak silat (tematik) dan festival koreografi, bersifat selebrasi non kompetisi, penghargaan penyajian terbaik tanpa jenjang (non ranking) atau bersifat apresiatif, merayakan keragaman dan forum persaudaraan sesama insan pesilat, tanpa rivalitas atau persaingan. Sementara itu, nomor tanding, nomor Tunggal, Ganda dan Regu (TGR) dan nomor festival, termasuk nomor solo kreatif, dalam konteks pengemasan dan proses kreatifnya dianggap tidak optimal, oleh sebab regulasi dan peraturan yang membatasi aksi eksplorasinya.

Hal ini, boleh jadi adanya persepsi perdebatan mengenai potensi friksi antara kebutuhan standarisasi pencak silat dengan dorongan untuk eksplorasi dan inovasi dalam praktinya. Selain, dikotomi antara pencak silat untuk tujuan prestasi dan sebagai bentuk kegiatan pelestarian, isu atau fakta ? Fakta maraknya kegiatan festival pencak silat tradisi di Indonesia, terutama sekitar Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek), menandakan semangat terkait pelestarian dan revitalisasi pencak silat. Namun, semangat saja tidak cukup tanpa didukung kemapuan dalam penataan atau pengemasan pencak silat tradisi, baik sebagai nomor lomba maupun sebagai penyajian seni pertunjukan, karena itu mendesak perlunya pendidikan dan pelatihan, workshop atau lokakarya seni pertunjukan, khususnya bidang pengemasan untuk para praktisi dan pegiat pencak silat tradisi. Fokus utamanya adalah untuk pembaharuan penciptaan, inovasi, kreativitas. penghindaran monoton dan pengembangan koreografi sebagai aspek kunci pembaharuan.

Apapun dilema maupun tantangan yang dihadapi pencak silat (tradisi), upaya pengemasan dan proses kreatif memastikan untuk pelestarian, pengembangan, promosi dan popularitas melalui pendekatan modernisasi atau spirit kekinian dengan tetap menjaga keseimbangan nilai tradisinya. Berharap pencak silat (tradisi) tetao eksis, adaptif, kompetitif, membumi dan mengglobal. Semoga.

(Wahdat MY/Pegiat Pencak Silat)