Sambut Lebaran, Warga Kayuagung Gelar Midang Adat Morge Siwe

Kabar Daerah37 Dilihat

OKI Sumsel, korankabarnusantara.co.id – Midang bebuke (arak-arakan pakaian adat pada hari lebaran) jadi tradisi turun temurun masyarakat Kayuagung, Ogan Komering Ilir (OKI) Sumsel. Tradisi ini digelar pada hari ke tiga dan keempat lebaran Idul Fitri.

Tahun ini gelaran midang terlihat semarak dan tertib. Arak-arakan Puluhan pasang Pakaian Pengantin terlihat Arak Arakan mengelilingi sungai Komering diiringi musik Tanjidur pada Jum’at, (12/4/2024).

Sesepuh dan tokoh masyarakat Kayuagung, Saiful Ardan mengatakan, awal mulanya Midang Bebuke terjadi sekitar abat ke-17. Konon, midang dijadikan sebagai syarat pernikahan. Jadi, sejak peristiwa itulah, masyarakat Kota Kayuagung menyelenggarakan acara Midang Bebuke Morge Siwe,” ungkapnya.

Dijelaskanya juga, midang dalam istilah Masyarakat Kayuagung adalah sebuah kegiatan Arak Arakan berjalan kaki dengan menggunakan pakaian adat perkawinan Mulai Dari Nyongsong (jemput Pengantin ) Sampai pada Pakaian Pengantin sesudah Acara Pernikahan.

“Kala itu Midang merupakan Adat Pernikahan dalam adat tertinggi di Morge Siwe (Sembilan Marga -red) seiring dengan berjalannya waktu midang ini terus mengalami perkembangan sehingga menjadi sebuah agenda pariwisata di OKI,” pungkasnya.

Kini midang telah menjadi agenda tahunan di Kota Kayuagung terutama pada Perayaan Hari Raya Idul Fitri (bebuke). Bahkan midang telah ditetapkan sebagai kekayaan khasanah budaya masyarakat Kayuagung melalui sertifikat Warisan Budaya tak Benda (WBTB) oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Pada pegelaran midang tahun ini Pj. Bupati OKI, Asmar Wijaya mengapresiasi dukungan masyarakat sehingga tradisi midang tetap lestari hingga kini. “Tentu tradisi ini tetap terjaga berkat dukungan masyarakat. Antusiasme dan kesadaran masyarakat yang tinggi untuk menjaga warisan leluhur,” terang dia.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten OKI Ahmadin Ilyas mengatakan rangkaian Midang tahun ini dirangkai dengan perlombaan cang-incang.

Cang-incang merupakan salah satu jenis sastra lisan yang melekat dengan tradisi masyarakat Kayuagung. Cang-incang biasanya ditampilkan dalam upacara perkawinan . Hingga kini tradisi ini masih kelihatan fungsinya baik di dalam kalangan masyarakat yang tinggal di dalam kota Kayuagung maupun yang tinggal di kota lainnya.

“Harapan kami dengan adanya perlombaan Cang Incang, maka akan ada generasi penerus yang akan terus melestarikan tradisi turun-temurun asli Kayuagung,” Ujarnya.

Madin menyebut rute kegiatan midang sendiri akan dilaksanakan disepanjang aliran sungai Komering.
Di hari pertama, midang bebuke diikuti oleh 6 Kelurahan dalam Kecamatan Kota Kayuagung antara lain, Kelurahan Kedaton, Perigee, Kayuagung Asli, Cinta Raja, Sida Kersa dan Tanjung Dancing. Sementara di hari ke 4 Idul Fitri akan diikuti kelurahan Kuta Raya, Sukadana, Paku, Mangun Jaya dan Jua-Jua.

“Rute perjalanan dimulai dari Kelurahan Kayuagung Asli menuju ke Kedaton. Lalu menyebrang pakai perahu ketek menuju ke Jua-jua dan berkumpulnya di pendopoan rumah dinas Bupati OKI, dirangkai dengan perlombaan cang-incang. Setelah itu barulah para peserta, dapat kembali ke kelurahan masing-masing,” tuturnya. (MAT YS)