by

RS Mitra Plumbon Cirebon Diduga Tahan Pasien Pra Sejahtera

Cirebon, korankabarnusantara.co.id – Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah  peribahasa yang pas disematkan pada Nurhasim, warga Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon. Awalnya, anak Nurhasim yang bernama Nur Syakilah sakit dan dirawat selama dua hari di Rumah Sakit (RS) Mitra Plumbon. Namun, karena masih bayi, status di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan belum aktif. Sementara demi menyelamatkan nyawa anaknya itu, Nurhasim pun membawanya berobat ke RS Mitra Plumbon karena masih satu desa. Setelah dirawat selama dua hari, kondisi anaknya membaik dan Nurhasim berniat membawa pulang. Sayangnya, Nurhasim harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 1,8 juta agar anaknya bisa pulang ke rumah. Tentu saja, uang sebanyak itu tak dimiliki oleh Nurhasim yang notabene merupakan keluarga pra sejahtera alias tidak mampu.

Dia pun lalu meminta tolong ke perangkat desa tentang biaya yang ia harus keluarkan agar anaknya bisa pulang. Pihak desa juga mencoba menegosiasi dengan manajemen RS agar pasien atas nama Nur Syakilah bisa pulang. Namun, keputusannya tetap, Nurhasim harus melunasi biaya perawatan.

“Kami sangat kecewa dan menyayangkan atas kebijakan pelayanan yang dilakukan oleh RS Mitra Plumbon,” ujar perangkat Desa Gombang, Yudi yang didampingi Wakil Ketua Umum LSM C.I.B, Boby.

Menurut Yudi, selaku perangkat Desa Gombang ia merasa punya kewajiban atas warganya yang sakit dan membutuhkan pertolongan. Apalagi, Yudi tahu bahwa orang tua pasien yakni Nurhasim adalah orang yang secara ekonomi memang harus dibantu.

“Kami bersama Wakil Ketua Umum LSM C.I.B mewakili warga kami sendiri meminta kebijakan pada Fiki Kasyati selaku kasir/Adminitrasi, meskipun kartu BPJSnya non aktif dan sedang dalam proses bantuan kami untuk mengaktifkan kembali dan sudah diijinkan untuk pulang dari segi pemeriksaan, akan tetapi dipersulit perihal administrasi dengan jumlah Rp.1.800.000,” bebernya.

Padahal lanjutnya lagi, saat itu dia juga sudah memberikan uang dengan senilai Rp. 200 ribu, akan tetapi dari pihak RS Mitra Plumbon tetap saja meminta pelunasan. “Kami siap dengan proses surat pernyataan meminta waktu untuk pelunasan, namun pihak RS Mitra Plumbon tetap tak bergeming. Akhirnya dikarenakan tetap harus membayar dan melunasi, maka kami pun bersama para tetangganya mengumpulkan sumbangan untuk membantu keluarga pasien,” katanya. (tim)

Kabar Nusantara Online