by

Pemdes Nunuk Gelar Mapag Sri Bentuk Rasa Syukur

Indramayu, korankabarnusantara.co.id – Pemerintah desa Nunuk Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu Jawa Barat, bersama warga melakukan upacara Mapag Sri, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Saat acara mapag sri yang dilaksanakan di halaman Kantor Desa Nunuk masyarakat antusias mengikuti acara demi acara.

“Kegiatan menggelar upacara Mapag Sri ini, sebagai ungkapan rasa syukur saat menyambut panen raya ditahun ini,” kata Kuwu Andi Purnomo desa Nunuk.

Kuwu Andi Purnomo bersama masyarakat ikut mengiringi acara doa bersama diacara Mapag Sri bahkan puluhan tumpeng yang dibawa warga Nunuk menghiasi aula kantor desa bahkan acara berlangsung meriah, kegiatan syukuran berjalan sukses dan Kondusif.

Menurut kuwu Andi Purnomo tradisi dan budaya yang turun temurun dari nenek moyang, untuk memulai musim panen rendeng atau sadon selalu di lakukan syukuran “Mapag Sri” dengan harapan hasil panen bisa membawa berkah bagi seluruh petani.

Ritual Mapag Sri yang dilakukan petani dengan cara petani mengambil ratusan tangkai padi di satu petak sawah yang kondisi tanamannya cukup bagus. Sebelum padi dipetik petani terlebih dulu membuat sesajen berupa tumpeng yang dibagian atasnya terdapat telur ayam kampung, bubur manis dan asin, aneka kue serta minuman berupa air kopi, bajigur dan kelapa muda. Ketika sesajen disimpan petani terlebih dulu membaca ritual memohon agar hasil panen banyak dan membawa berkah.

Setelah ritual selesai, kemudian dibawa oleh beberapa orang warga secara bergantian dan menuju tempat masyarakat berkumpul untuk makan bersama.

Kuwu Andi pun menjelaskan, syukuran Mapag Sri ini adalah tradisi warga Nunuk yang biasa dilakukan setiap tahun disaat masa panen rendeng tiba. Sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur agar panen bisa banyak dan hasilnya membawa berkah bagi masyarakat khususnya para petani.

“Wasiat Orang tua dahulu, Padi adalah sri, yang harus diperlakukan dengan sangat istimewa, bila perlakuan terhadap sri ini tidak baik maka Sri (Padi) akan kecewa dan pergi, yang berimbas hasilnya panennya biasanya akan jelek,” tutur Kuwu Andi.

Tradisi yang telah dilakukan warga Nunuk, harus terus pertahankan sebagai nilai budaya dan tradisi peninggalan nenek moyang kita. Karena syukuran Mapag Sri sebuah budaya yang harus tetap Lestari.

Bahkan tradisi mapag sri ini bisa menjadi sebuah destinasi wisata lokal, karena mungkin di tempat lain tidak dilakukan, kalaupun dilakukan caranya berbeda-beda.

“Sebab, bila kita selalu bersyukur kepada Allah SWT. Maka Alhamdulillah, hasil tanam dan panen sangat baik,” ungkap Kuwu Andi Purnomo.

Acara Mapag Sri dihibur dengan pagelaran wayang kulit Langen Budaya dengan dalang H. Anom Rusdi dengan Pesinden Hj. Ugi s dan Reggi Rafika pesiden semalam suntuk.

(Idi. S)

Kabar Nusantara Online