by

Pembuatan Kertas Daluang Rumah Teater Sawo Kecik Tanam Pohon Saeh

Indramayu, korankabarnusantara.co.id – Keberadaanya sempat dinyatakan punah. Namun, Daluang, kertas atau kain yang terbuat dari kulit pohon saeh bernama latin Paper Mulberry (broussonetia papyrifera) kini ditanam dibelakang rumah teater Sawo Kecik didesa Cikedung Kidul, Kec. Cikedung Kab. Indramayu, Jawa Barat, Kamis ( 13/1/2022).

Pohon saeh adalah bahan pembuatan kertas daluang yang proses pembuatanya dengan cara tradisional.

Pendiri rumah teater sawo kecik, Ray Mengku Sutentra menjelaskan Daluang sudah ada sejak abad ke sembilan masehi. Menurutnya, dibuktikan dengan adanya artefak yang naskahnya tertera tulisan Arab.

Ray mengatakan, dalam proses pembuatan kertas daluang sama sekali tidak tercampur material berbahan kimia. Pembuatanya pun terbilang sangat sederhana, dimulai dengan pemilihan kulit kayu pohon saeh, kemudian kulit kabagian dalam direndam dengan air bersih, setelah itu kulit pohon dipukul-pukul dengan menggunakan alat yang disebut pameupeuh hingga mencapai kelebaran yang diinginkan.

Selanjutnya, dicuci hingga bersih, lalu di fermentasi atau biasa disebut pram, setelah itu dikeringkan atau dijemur di batang pohon pisang. Proses akhirnya dirapihkan dengan menggunakan kerang atau kuwuk untuk menghasilkan tekstur kertas yang halus.

Pembuatan Kertas Daluang Rumah Teater Sawo Kecik Tanam Pohon Saeh

Daluang adalah kertas khas Indonesia yang terbuat dari kulit kayu pohon paper mulberry (Broussonetia Papyrifera Vent), yang dalam bahasa Sunda dikenal sebagai pohon saeh.

Daluang dibuat dengan cara ditempa. Daluang telah menjadi Warisan Budaya difungsikan juga sebagai kertas untuk wayang beber.

Ray menjelaskan, pembuatan kertas daluang Tak banyak orang yang mengetahui jenis kertas tersebut. bahwa daluang adalah peninggalan bersejarah Indonesia.

Dia mengaku Untuk merawat warisan budaya tersebut, Selain itu, masih ada hal lain yang menurutnya tak kalah penting, yaitu terkait menjaga keseimbangan alam melalui penanaman pohon saeh.

Rumah Teater Sawo Kecik yang berdiri sejak 2 Januari 2021, sedangkan Rumah Teater sawo kecik sendiri diambil dari aksara jawa kuno.

Adapun sawo kecik mengedepankan seni dan budaya seperti seni pertunjukan teater, seni pertunjukan sastra seperti pujangga (kidungan, red), seni musik dan sastra dalam konteks sastra teks kekaryaan seperti sastra modern dan sastra tradisi.

“Kegiatan kami tentang teater dan baca tulis aksara jawa, juga mencakup pelestarian kertas daluang,” jelasnya.

Kegiatan ini menjadi kegiatan rintisan sebagai sarana revitalisasi budaya, khususnya di kawasan agraris. Ini sebagai sarana promosi budaya daerah, dan menjadi ruang kreasi bagi insan budaya dan seniman di Indramayu,” ucapnya.

“Harapannya kepada Disbudpar Indramayu meberikan masukan sehingga selain menjadi ajang kreasi bagi seniman, juga dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dikabupaten Indramayu,” pungkasnya.

(Anton)

Kabar Nusantara Online