by

Lagi, Tradisi Ngarot di Desa Nunuk Jadi Ikon Budaya

-Lifestyle-128 views

Indramayu, KN

Ribuan masyarakat tumpah ruah di halaman Balai Desa Nunuk Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu Jawa Barat, untuk menyaksikan prosesi Adat Ngarot yang dilaksanakan oleh Pemerintah Desa Nunuk, Sabtu kemarin (4/1/2020).

Tradisi Adat Ngarot merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat, berkah dan rezeki yang diberikan pada petani.
Ngarot menjadi salah satu ikon budaya di Kabupaten Indramayu, dan tradisi ini juga sudah menjadi budaya nasional.

Adat Ngarot merupakan suatu tradisi untuk memulai masa bercocok tanam di sawah yang dilakukan sejak abad 16 yang lalu sampai sekarang di musim penghujan (rendeng), yaitu pada minggu ke 3 bulan desember.

“Alhamdulillah Tradisi Ngarot di Desa Nunuk ini berjalan dengan lancar dan pelestariannya masih tetap terjaga,” ujar Kuwu Nunuk, Mashadi.

melalui Tradisi Ngarot diharapkan musim tanam padi yang mulai dilaksanakan akan sukses dan melimpahkan hasil seperti yang diharapkan para petani di desa Nunuk, jelas Mashadi.

Prosesi Adat Ngarot dimulai dengan pawai puluhan gadis yang bermahkotakan bunga di kepalanya serta para jejaka mengenakan pakaian komboran hitam yang berselipkan sebuah keris dipinggangnya.

Dipimpin oleh Kepala Desa Nunuk dan istri, gadis Ngarot mengelilingi batas-batas desa diiringi para jajaka desa di belakangnya, dan diiringi gamelan musik khas dermayonan.

Setelah menyusuri batas-batas desa, barulah gadis dan jajaka desa itu berkumpul di balai desa untuk mendengarkan wejangan atau petuah dari tetua desa.

Di akhir prosesi, diserahkan sarana panca usaha tani seperti bibit padi, kendi berisi air, cangkul dan parang, dan lain-lain secara simbolik, kepada perwakilan gadis dan jajaka Ngarot.

Penyerahan sarana panca usaha tani ini menjadi penanda dimulainya masa menggarap sawah di musim rendeng yang dilakukan secara massal oleh masyarakat Desa Nunuk, untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka selama satu tahun ke depan.                       

Camat Lelea Hatta Dirja SSPT mengatakan, Tradisi Adat Ngarot merupakan rangkaian yang panjang dari usaha manusia untuk mengekspresikan rasa syukurnya terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa atas melimpahnya panen padi di tahun sebelumnya.

“Tradisi ngarot ini menjadikan destinasi wisata disamping mempererat tali silaturahmi sesama,” ujar Hatta.

Hatta menegaskan, tradisi Adat Ngarot ini sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.

Menurutnya banyak hal yang positif dari tradisi ini, di antaranya mengedukasi pemuda-pemudi untuk bercocok tanam di sawah sebagai bekal kehidupan mereka.

Menurut masyarakat desa Nunuk bahwa Tradisi Adat Ngarot memang identik dengan gadis bermahkotakan bunga. Daya tariknya ada di situ. Konon mitosnya, kalau gadis-gadis yang ikut pawai itu sudah tidak suci lagi, maka bunga yang ada di kepalanya akan layu. (idi. S)

Kabar Nusantara Online