Kabar Daerah

Ketua Umum KPSTI: elantikan Pengurus Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI) Se-Bandung Raya

5
×

Ketua Umum KPSTI: elantikan Pengurus Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI) Se-Bandung Raya

Sebarkan artikel ini

Bandung, korankabarnusantara.co.id – Pelantikan Pengurus Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI) se-Bandung Raya menjadi momentum penting untuk memperkuat pelestarian pencak silat tradisi sebagai warisan budaya bangsa. Kegiatan tersebut digelar di Gedung GPK, Pusat Kebudayaan, Jalan Naripan Nomor 7, Kota Bandung, sekaligus dirangkaikan dengan pagelaran pencak silat tradisi bertajuk Gema Gaurasa.

Acara ini dihadiri perwakilan berbagai perguruan pencak silat di wilayah Bandung Raya yang berhimpun dalam kepengurusan KPSTI. Pembentukan dan pelantikan pengurus tersebut diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperluas pembinaan serta menjaga keberlangsungan pencak silat tradisi di tengah masyarakat.

Ketua Umum Pengurus Pusat KPSTI, Mahfudz Abdurrahman, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga atas kebersamaan berbagai elemen pencak silat yang memiliki komitmen untuk membangun dan mengembangkan silat tradisi hingga ke pelosok negeri.

Ia mengucapkan selamat kepada seluruh pengurus yang telah dilantik dan berharap amanah organisasi dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Menurutnya, pengurus KPSTI memiliki tugas penting untuk melestarikan pencak silat tradisi, menjunjung tinggi keberagaman, serta mendorong keberlanjutan agar warisan budaya tersebut tetap eksis dari generasi ke generasi.

“Selamat kepada para pengurus yang tadi dilantik. Mudah-mudahan dapat melaksanakan amanah dengan baik, mampu melestarikan, menjunjung tinggi keberagaman, dan mendorong keberlanjutan agar pencak silat tradisi senantiasa eksis di muka bumi ini,” tuturnya.

KPSTI Perluas Pengembangan ke Berbagai Provinsi

Mahfudz menjelaskan, meskipun KPSTI baru berusia sekitar dua tahun, organisasi tersebut terus menyusun strategi untuk memperluas jangkauan kepengurusan ke berbagai daerah di Indonesia.

Ia menyebutkan, pengembangan organisasi telah dilakukan di sejumlah wilayah, di antaranya Sumatera Barat dan Jawa Barat. Sementara itu, pembentukan kepengurusan di Jawa Timur juga telah berjalan, disusul rencana pengembangan di Provinsi Banten, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan.

Menurutnya, perluasan kepengurusan tersebut bukan semata-mata untuk membangun struktur organisasi, melainkan juga memperkuat koordinasi antarpelaku pencak silat tradisi agar pembinaan dan pelestarian dapat berlangsung secara berkesinambungan.

Mahfudz berharap, kehadiran KPSTI di berbagai provinsi mampu menjadi wadah pemersatu perguruan dan komunitas pencak silat tradisi dengan tetap menghormati karakteristik serta kekhasan budaya setiap daerah.

Empat Dimensi Pencak Silat Tradisi

Dalam sambutannya, Mahfudz menegaskan bahwa pencak silat tradisi memiliki akar kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Seni bela diri ini tumbuh dan berkembang di desa-desa, kawasan pegunungan, wilayah pesisir, serta berbagai pelosok Nusantara dengan ciri khas masing-masing.

Ia menjelaskan, pencak silat tradisi memiliki empat dimensi utama, yakni bela diri, olahraga, seni budaya, serta mental spiritual. Keempat dimensi tersebut menjadikan pencak silat bukan sekadar keterampilan bertarung, tetapi juga sarana pendidikan karakter, pembentukan kedisiplinan, dan pewarisan nilai-nilai luhur bangsa.

Mahfudz juga menyinggung pengakuan UNESCO terhadap pencak silat sebagai warisan budaya takbenda pada 12 Desember 2019. Pengakuan tersebut, menurutnya, menjadi tanggung jawab bersama bagi seluruh insan pencak silat untuk terus menjaga dan mengembangkan tradisi tersebut.

“Konsekuensi logis setelah ditetapkan UNESCO, kita selaku pengurus dan insan pencak silat harus membina dan melestarikannya, sehingga pencak silat tradisi ini tetap eksis, lestari, dan berdaya guna,” tegasnya.

Beradaptasi dengan Zaman Tanpa Kehilangan Jati Diri

Lebih lanjut, Mahfudz menekankan bahwa pelestarian pencak silat tradisi harus berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Berbagai perubahan sosial dan budaya perlu disikapi secara terbuka, tanpa menghilangkan nilai-nilai dasar yang menjadi identitas pencak silat tradisi.

Menurutnya, tantangan ke depan adalah bagaimana pencak silat tradisi dapat terus berkembang, dikenal generasi muda, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, tanpa tercerabut dari akar budaya yang diwariskan para leluhur.

Pesan tersebut sejalan dengan harapan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, yakni agar kesenian pencak silat dapat tumbuh di setiap desa dan kelurahan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa Barat.

Tradisi pencak silat yang berjalan berdampingan dengan kegiatan mengaji juga dinilai mencerminkan keterkaitan antara pembinaan keterampilan, keimanan, dan hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat.

Melalui pelantikan pengurus KPSTI se-Bandung Raya dan pagelaran Gema Gaurasa, diharapkan semakin kuat kolaborasi ant perguruan, komunitas, dan pegiat budaya untuk menjaga keberlangsungan pencak silat tradisi.

Bagi KPSTI, pelestarian bukan hanya mempertahankan gerakan dan teknik bela diri, melainkan juga merawat nilai, karakter, keberagaman, serta jati diri budaya bangsa agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. (H. Asep Dedi)