by

Hikayat Batu Andesit, Harta Karun yang Jadi Nisan Kuburan

Cirebon, korankabarnusantara.co.id – Nama batu Andesit dalam beberapa hari terakhir ini menjadi buah bibir masyarakat luas. Pemicunya, berawal dari rencana penambangan batu Andesit untuk proyek Waduk Bener di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Penambangan batu Andesit itu sendiri dilakukan di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, tak jauh dari lokasi proyek bendungan.

Terlepas dari berbagai kepentingan dalam proyek bendungan diatas, sebenarnya apa sih batu andesit itu? Menurut Wikipedia, Batu andesit adalah batuan vulkanik yang memiliki kandungan silika dalam jumlah sedang. Batu tersebut berwarna abu-abu kehitaman, serta memiliki butir halus yang disebut porfiritik.

Rupanya, batu andesit memiliki banyak manfaat. Salah satunya, batu andesit ini sangat bagus digunakan untuk kontruksi bangunan. Masih merujuk Wikipedia, batu Andesit adalah jenis peralihan antara batu basal dan dasit, dengan rentang silikon dioksida (SiO2) adalah 57-63 persen. Susunan mineral biasanya didominasi oleh plagioklas ditambah piroksen dan atau hornblende. Magnetit, zirkon, apatit, ilmenit, biotit, dan garnet adalah mineral aksesori umum. Alkali feldspar dapat hadir dalam jumlah kecil.

Di zaman sekarang, batu Andesit masih digunakan sebagai material untuk nisan kuburan orang Tionghoa, cobek, lumpang jamu, cungkup/kap lampu taman dan arca-arca untuk hiasan. Salah satu pusat kerajinan dari batu Andesit di Jawa Barat ada di Kabupaten Cirebon dan Majalengka. Sementara untuk di Jawa Tengah ada di Magelang. Karena di daerah-daerah tersebut banyak terdapat perbukitan yang merupakan daerah tambang Batu Andesit.

Untuk batu andesit di daerah Cirebon, pada umumnya berwarna abu-abu dan terdiri dari 2 Jenis utama yaitu andesit bintik dan andesit polos. Termasuk dalam kategori batu alam, andesit tentunya serbaguna dan bisa menambahkan tekstur berbeda pada desain interior rumah. Belum lagi ketersediaan batu yang melimpah di alam dan sering digunakan dalam proyek bangunan hijau karena ramah lingkungan.

Batuan andesit umumnya ditemukan pada lingkungan subduksi tektonik di wilayah perbatasan lautan seperti di pantai barat Amerika Selatan atau daerah-daerah dengan aktivitas vulkanik yang tinggi seperti Indonesia. Nama andesit berasal dari nama Pegunungan Andes.

Batu andesit banyak digunakan dalam bangunan-bangunan megalitik, candi dan piramida. Begitu juga perkakas-perkakas dari zaman prasejarah banyak memakai material ini, misalnya sarkofagus, punden berundak, lumpang batu, meja batu, arca, dan lain-lain.

Batu andesit juga tidak mengandung bahan berbahaya atau racun dan dapat digunakan dengan aman, baik di dalam maupun di luar ruangan. Secara umum Andesit dapat diaplikasikan ke desain ubin karena tahan slip dan bisa juga digunakan dalam desain lansekap dan taman.

Batu andesit juga tahan terhadap segala jenis cuaca buruk. Batu andesit akan bertahan selamanya meskipun terkena panas dan dingin yang konstan atau perubahan cuaca yang drastis. Terakhir, batu andesit juga bebas jamur dan lumut. (man/berbagai sumber)

Kabar Nusantara Online