korankabarnusantara.co.id – Hasrat untuk mengembangkan dan menyebarluaskan pencak silat ke berbagai belahan dunia merupakan premis atau gagasan para Founding Father IPSI, yang secara implisit bermakna agar pencak silat tidak hanya membumi di negerinya sendiri tetapi juga digemari atau diminati oleh masyarakat dunia lainnya.
Spirit untuk mengglobalkan pencak silat melalui transformasi pencak silat sebagai budaya tradisi menjadi medium olahraga prestasi yang dapat dipertandingkan atau kompetitif dan setara dengan olahraga “modern” lainnya, walaupun pilihan untuk mempopulerkan pencak silat itu tentu tidak serta-merta diraih tanpa polemik atau friksi yang panjang dalam proses mewujudkannya. Faktanya, pencak silat telah dipertandingkan sebagai cabang olahraga di multi event, seperti PON (1973), Sea Games (1987), dan Asian Games (2018). Lantas, bagaimana prospek dan peluangnya agar pencak silat dapat dipertandingkan di event akbar Olimpiade? Seperti apa progresnya?
Euforia juara umum cabang olahraga pencak silat pada perhelatan Asian Games di Jakarta (2018) boleh jadi merupakan embrio program unggulan yang mengemuka dengan tagline “Pencak Silat Road To Olympic” atau “Pencak Silat Go To Olimpiade”. Ekspektasi itu bukan semata karena capaian prestasi dan dominasi Indonesia, tetapi juga soal kapasitasnya sebagai pendiri dan pimpinan PERSILAT (Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa) dalam konteks menginisiasi pencak silat agar tampil di arena Olimpiade.
Proses menuju Olimpiade bukanlah perkara mudah. Serangkaian aksi pasti sudah dilalui, seperti berkonsolidasi dengan MENPORA, KOI, KONI, dan stakeholder terkait, termasuk mengadakan webinar, diskusi, maupun aksi giat lainnya. Simpulannya bahwa pencak silat masih terkendala karena berdasarkan ketentuan International Olympic Committee (IOC), pencak silat harus diakui oleh National Olympic Committee (NOC) di 80 negara terlebih dahulu agar dapat dipertandingkan dalam Olimpiade.
Entah sampai kapan ketentuan IOC itu dapat terpenuhi, mengingat pencak silat hingga saat ini sebarannya masih berada di posisi sekitar 78 negara yang juga diakui sebagai anggota PERSILAT. Tepatnya, data keanggotaan itu secara implisit tidak menjelaskan berapa jumlah yang diakui oleh NOC. Sementara sumber internal menyebutkan federasi atau organisasi pencak silat yang telah diakui NOC itu variatif, namun ada harapan dalam bentuk rencana aksi PB IPSI/PERSILAT menuju Olimpiade 2036, dengan perlunya dukungan minimal 50 negara di lima benua.
Akurasi atau validitas terkait ketentuan IOC dan jumlah federasi pencak silat yang telah diakui oleh NOC, serta skema tahun 2036 sebagai tuan rumah Olimpiade maupun tidak, akan tetap menjadi pertaruhan penting. Hal ini tidak hanya soal prestasi tetapi juga soal prestise bangsa ini di mata dunia karena warisan budayanya dapat digelar di Olimpiade. Hal tersebut sesuai dengan spirit amanah Undang-Undang Keolahragaan No. 11 Tahun 2022, Perpres No.86/2021, dan Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) di mana pencak silat merupakan salah satu cabang olahraga unggulan yang disiapkan menuju Olimpiade.
Ancang-ancang atau persiapan tanpa terasa hanya akan melewati Olimpiade Paris (2024) dan Olimpiade Los Angeles, USA (2028), karena pencak silat diharapkan sudah dapat dieksebisikan di Olimpiade Brisbane, Australia (2032) yang juga menjadi syarat utama pencak silat dapat dipertandingkan secara resmi pada Olimpiade berikutnya (2036).
Berpacu dengan waktu, pilihan rencana aksinya adalah melalui peningkatan event atau kompetisi di tingkat nasional maupun internasional, pengembangan di luar negeri, pelatih, wasit-juri internasional, bantuan fasilitas tanding/lomba, dan peningkatan status anggota PERSILAT yang diakui National Olympic Committee (NOC). Namun, upaya yang bersifat teknis saja tidak cukup, perlu spirit baru dengan menggalakkan promosi dan diplomasi budaya sembari memulihkan kepercayaan masyarakat pencak silat dunia pasca-Indonesia “memborong” medali emas di Asian Games di Jakarta (2018).
Pasca Asian Games Jakarta, diharapkan dapat mengedukasi pentingnya “strategi” dalam pengembangan atau ekspansi pencak silat di mancanegara. Paling tidak, belajarlah pada referensi, bagaimana Taekwondo menjadi cabang olahraga resmi pada Olimpiade Sydney 2000, dan Karate yang perdana dipertandingkan pada Olimpiade Tokyo 2020, termasuk Wushu yang berpeluang layak digelar pada Olimpiade Brisbane 2032.
Pilihan pintu masuk aksi penguatan promosi dan diplomasi budaya tidak melulu bertumpu pada aspek olahraga saja, tetapi juga melalui pencak silat tradisi yang merupakan sumber eksplorasi pelestarian dan pengembangan berbasis sistem nilai, seperti filosofi, ritual, adat istiadat, spiritualisme, beladiri, seni, dan sebagainya.
Berdasarkan yang sama dengan pencak silat “budaya tradisi”, Jepang dan Korea telah lebih dahulu menembus Olimpiade, karena strategi transformasi dan komodifikasi karate maupun taekwondo melalui industri budaya dalam bentuk sport entertainment, sinema, tarian, musik, teater, dan seni pertunjukan lainnya (performing art).
Diplomasi budaya model karate dan taekwondo dengan spirit industri budaya dapat diadopsi, karena pencak silat memiliki potensi pelbagai keragaman sistem nilainya yang berkembang dan meruyak tanpa batas. Beberapa tahun lalu, aksi promosi pernah dilakukan PB IPSI/PERSILAT dengan mengirimkan Tim Demo Pencak Silat ke Bercy Martial Aux Festival (Paris), Chungju Festival (Korea), Amsterdam Festival, Melbourne Festival, Rusia, Jepang, Timur Tengah, dan beberapa negara lainnya. Selain aksi selebrasi, digelar juga nomor tandingnya.
Diplomasi budaya itu mestinya terus berlanjut dengan lebih gencar lagi. Spirit promosi ada juga dilakukan oleh komunitas, perguruan, maupun perseorangan, termasuk aksi aktor film laga berbasis pencak silat yang booming seolah menjadi “oasis” di tengah sepinya geliat program diplomasi budaya. Kendati parsial dan sporadis, faktanya industri budaya atau industri kreatif, baik performing art maupun film berbasis karate, taekwondo, dan wushu, saat ini telah menjadi industri budaya yang mengglobal. Fakta, bahwa karate telah menjadi ikonik bangsa Jepang, demikian juga Korea dengan taekwondo dan China dengan wushunya.
Pencak silat berbasis ekspresi budaya (tradisi) memiliki keunggulan komparatif, selaras dengan tujuan untuk menciptakan interaksi yang lebih “engaging” (menarik atau menyenangkan), karena itu berpeluang mampu mengglobalkan pencak silat dan menembus Olimpiade.
Aksi program pelestarian yang berkelanjutan pasca tradisi pencak silat diakui UNESCO merupakan momentum yang mestinya dapat disinergikan dengan spirit program “Pencak Silat Road To Olympic”. Pentingnya konsolidasi internal organisasi, menyatukan visi sesama negara pendiri PERSILAT, sembari menguatkan relasi atau hubungan dengan KOI, Dewan Olimpiade Asia (OCA), IOC, dan lembaga/organisasi olahraga internasional lainnya yang terkait. Representasi kerja keras saja tidak cukup, PB IPSI/PERSILAT berjuang “sendiri” tanpa dukungan total atau komitmen dari semua pihak, termasuk dari pemangku kepentingan, mustahil akan terwujud, utamanya aksi “goodwill” terkait dukungan nyata pendanaan dari pemerintah atau negara.
Demikian strategis diplomasi budaya kaitannya dalam upaya mempromosikan dan melindungi kepentingan nasional yang menuntut adanya optimalisasi peran atau hadirnya negara. Pencak silat dalam arus perubahan diharapkan mampu menjadi agen budaya atau “key branding” program diplomasi budaya menuju Olimpiade. Berharap juga Indonesia dapat memenangkan “bidding” lelang/penawaran sebagai tuan rumah Olimpiade 2036.
Kehadiran Presiden terpilih Prabowo Subianto di acara Eksebisi Pencak Silat Road to Olympic di Paris di sela-sela perhelatan Olimpiade yang saat ini tengah berlangsung, menjadi momentum semakin menguatnya optimisme pencak silat dapat melenggang ke Olimpiade. Keyakinan itu meruyak setelah Prabowo Subianto yang juga Ketum PB. IPSI dan Presiden PERSILAT bertemu dengan Presiden IOC Thomas Bach. Hadir pula mendampingi Presiden PERSILAT, Menpora Dito Ariotedjo, Menteri BUMN/Ketua Umum PSSI Erick Thohir, dan Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari.
Berharap spirit ke Olimpiade dapat menyatukan visi. Pentingnya aksi pelestarian yang berkelanjutan dalam kerangka mengimplementasikan aksi program Bela Negara. Semoga pencak silat menjelma menjadi ikon Indonesia tanpa reserve.
(Wahdat. MY)













