by

Asal Usul Omicron, Varian Baru Covid-19 yang Sudah Masuk ke Indonesia

Jakarta, korankabarnusantara.co.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan nama “Omicron” untuk varian baru virus Corona B.1.1.529 yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan. WHO juga menetapkan varian Omicron memiliki beberapa mutasi yang karakteristiknya mengkhawatirkan sehingga perlu mendapatkan perhatian serius.

Mengutip keterangan WHO, sampel pertama varian asal Afrika Selatan ini ditemukan pada 9 November 2021 dan dilaporkan ke WHO pada 27 November 2021. Technical Advisory Group on SARS-COV-2 Virus Evolution (TAG-VE) mencatat, varian ini miliki banyak mutasi dan beberapa di antaranya mengkhawatirkan.

Indikasi awal menunjukkan, varian ini memiliki risiko tinggi reinfeksi dibandingkan varian lain, menular lebih cepat 5 kali dibanding varian lain, dan mampu menembus imunitas yang telah dibentuk tubuh.

Para peneliti di Afrika Selatan menemukan 32 mutasi spike protein dan 50 mutasi pada varian ini. Sebagai perbandingan, varian Delta hanya memiliki dua mutasi spike protein.

Peneliti melihat varian ini memiliki kemiripan dengan varian Lambda dan Beta yang terkenal memiliki kemampuan melawan imunitas yang telah terbentuk. Varian ini dikhawatirkan tak hanya lebih cepat menyebar tapi juga dapat menerobos sistem imunintas seseorang yang telah terbentuk.

Para penelitian di Hongkong menemukan, varian ini sangat airborne. Hal ini ditunjukkan oleh dua korban di ruangan yang berseberangan dengan sampel virus ditemukan di beberapa sudut kedua ruangan.

Varian ini banyak ditemukan pada individu berusia 18-34 tahun yaitu kelompok dengan tingkat vaksinasi paling rendah di Afrika Selatan. Tingkat vaksinasi di negara ini baru 24 persen. Selain Afrika Selatan, varian ini juga sudah terdeteksi di Hong Kong, Botswana, Israel, Inggris, Jerman, Italia dan Amerika Serikat.

Lantaran hal itu, untuk mencegah penyebaran varian Omicron, WHO merekomendasikan agar negara-negara melakukan langkah-langkah, sebagai berikut: memperkuat upaya surveillance dan sequencing untuk lebih memahami peredaran varian Covid-19, menyampaikan genome sequence yang lengkap dan metadata terkaitnya ke database publik (GISAID), melaporkan kasus/kluster yg terkait dgn VO ke WHO melalui mekanisme IHR, jika memiliki kapasitas, melakukan investigasi lapangan dan assessment laboratorium untuk memperkaya pemahaman mengenai dampak terhadap epidemiologi, severity, efektivitas public health and social measures, alat diagnostik, dampak imunitas, netralisasi terhadap antibodi dan karakteristik lainnya.

Sementara untuk mengantisipasi varian Omicron yang sudah masuk, pemerintah  Indonesia mencegah penyebaran varian Omicron dengan mengeluarkan beberapa kebijakan, di antaranya: melarang masuk WNA ke wilayah Indonesia bagi yang memiliki riwayat perjalanan dari delapan negara di Afrika (Yaitu, Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho, Mozambique, Eswatini dan Nigeria) dalam 14 hari terakhir. Memperpanjang masa karantina dari sebelumnya 7 hari menjadi 10 hari bagi WNI dan WNA yang datang dari luar negeri, khususnya bagi yang memiliki riwayat perjalanan dari 8 negara yang sebelumnya dilarang. Melarang pejabat negara dari semua tingkatan bepergian ke luar negeri, kecuali bagi yang melaksanakan tugas penting negara. (san/rls)

Kabar Nusantara Online