by

Asal Usul Angpao

-Budaya-110 views

Cirebon, korankabarnusantara.co.id

Jumat 12 Februari 2021, masyarakat Tionghoa di berbagai penjuru dunia merayakan tahun baru China. Ya, pergantian tahun baru China atau dikenal juga dengan nama imlek ini merupakan tahun 2572. Berbeda dengan pergantian tahun baru masehi, pergantian tahun dalam masyarakat Tionghoa selalu ada Angpao. Ya, amplop berwarna merah menyala ini selalu identik dengan imlek. Pemberian Angpao di hari Imlek ini tentunya sangat dinantikan anak-anak. Biasanya, para orang tua atau orang yang lebih tua akan membagikan Angpao itu. Nah, apakah anda sekarang sudah menyiapkan Angpao tersebut. Sebelum anda membagi Angpao itu, apakah anda sudah mengetahui asal usul tradisi bagi Angpao ini? Ada hikayat menarik dibalik sejarah bagi Angpao itu.

Menurut legenda, pada zaman dahulu ada setan menakutkan yang disebut “Sui.” Setiap tahun pada malam tahun baru, setan itu akan datang untuk menyentuh kepala anak-anak yang sedang tidur sebanyak tiga kali. Karena ketakutan, si anak biasanya akan menangis keras, yang disusul dengan gejala sakit kepala, demam, dan mulai mengoceh tak karuan. Dan ketika gejala-gejala ini menghilang, anak tersebut akan menjadi bodoh.

Karena khawatir si iblis Sui akan mengganggu anak-anak mereka, para orang tua pun berjaga-jaga sepanjang malam tahun baru, dengan tetap menyalakan penerangan untuk mengusir setan. Ini adalah asal usul dari budaya “tetap terjaga” di malam Tahun Baru.

Sedangkan di sebuah kota bernama Jiaxing, terdapat sebuah keluarga bermarga Guan, yang baru memiliki anak ketika sudah berumur, sehingga anak tersebut menjadi sangat disayang oleh orang tuanya.

Pada saat malam tahun baru, karena takut iblis Sui akan datang, mereka membuat sang anak terjaga juga. Dan supaya anak itu tetap terjaga, mereka memberinya delapan koin untuk dimainkan. Anak itu pun segera asyik memainkan koin, ia membungkus koin dengan kertas merah, membuka bungkusan, dan kemudian membungkus dan membukanya lagi, berulang-ulang sampai dia kelelahan hingga akhirnya tertidur, dengan delapan koin yang dibungkus kertas merah itu tergeletak di samping bantalnya. Sedangkan pasangan suami istri Guan duduk di tempat tidur untuk tetap menjaga sang anak.

Pada tengah malam, berhembus angin kencang yang menghempaskan pintu sampai terbuka dan menyebabkan lampu penerangan mati mendadak. Dan tepat ketika si setan hendak mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala anak itu, berkas cahaya emas yang menyilaukan, memancar keluar dari dalam amplop merah. Setan itu pun takut dan melarikan diri.

Keesokan harinya, pasangan itu menuturkan tentang kejadian semalam kepada semua tetangga mereka. Sejak saat itu, mereka pun mulai melakukan hal yang sama. Dan sejak saat itu pula, anak-anak telah menjadi aman dan sehat tanpa masalah.

Ternyata delapan koin tersebut adalah perwujudan dari Delapan Dewa yang diam-diam datang untuk melindungi anak itu. Oleh karena itu orang-orang Tionghoa zaman dahulu menyebut uang yang dibungkus kertas merah (angpao) tadi sebagai “uang keberuntungan di hari Tahun Baru.

Kata “angpao” sendiri berasal dari dialek Hokkian; arti harfiahnya adalah bungkusan/amplop berwarna merah. Angpao biasanya berisi uang. Bagi masyarakat Tionghoa, warna merah adalah lambang kebaikan, kesejahteraan, kegembiraan, dan semangat optimistis yang diharapkan akan membawa nasib baik.

Sejarah Angpao sendiri sebenarnya sudah ada sejak zaman dinasti Han, uang pada waktu itu sebagian besar berbentuk bundar berlubang bulat dan persegi. Sisi depan Angpao diukiri dengan tulisan “Qu Yang Chu Xiung” (menghalau bala dan bencana), “Fu Shan Sou Hai”(sehat sejahtera), “Chang Ming Bai Sui” (panjang umur) dan tulisan atau huruf yang membawa berkah. Ada juga di balik Angpao itu diukiri dengan gambar naga dan phoenix, kura-kura, ikan kembar dan gambar-gambar hoki lainnya. Kemudian kebiasaan membagi-bagi uang pada musim semi berubah menjadi tradisi orang tua memberi Angpao pada anak yang lebih muda.

Angpao ada dua macam, pertama adalah merajut gambar naga dengan benang berwarna, dan diletakkan di kaki ranjang. Kedua adalah angpao yang telah dibungkus uang oleh orang tua, dan dibagikan kepada anak-anak setelah bersujud mengucapkan selamat tahun baru kepada orang tua.

Intinya, tradisi memberi angpao sudah bersejarah lama, ia (Angpao) itu menandakan penambahan usia, menghalau penyakit, menolak bala, keselamatan dan sebagainya, adalah do’a restu yang baik orang tua untuk anak-anak dan generasi yang lebih muda. (HS)

Kabar Nusantara Online