by

Akibat Abrasi, Kampung Sungai Burung Terancam Hilang Dari Peta Tulangbawang

Tulang Bawang, korankabarnusantara.co.id

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulangbawang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten setempat, prihatin terhadap kondisi Kampung Sungai Burung, Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulangbawang, terancam hilang akibat abrasi bibir pantai yang terjadi.

Dalam hal ini Pemkab Tulangbawang telah melakukan upaya berupa dukungan dengan mengajukan proposal permohonan kepada Kementerian PUPR Dirjen Sumber Daya Air (SDA) dan Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung.

“Diharapkan dengan penyampaian kita tersebut, Kampung Sungai Burung dapat dilakukan pembangunan pemecah ombak atau break water, sepanjang sekitar 6 Kilometer sepanjang bibir pantai Kampung Sungai Burung,” ungkap Kepala BPBD Kabupaten Tulangbawang, Kanedy.

Sebab, dari abrasi yang terjadi, dulu bangunan rumah di bibir pantai, sekolah sarana fasilitas umum, Lapangan, Balai Kampung, sudah tidak ada lagi ada, karena telah tenggelam, dan masyarakat pindah ke arah pinggir pantai yang lain, yang dibangun dengan model rumah-rumah panggung.

Dari hasil koordinasi Pemerintah Kampung Sungai Burung melalui Sekretaris Kampung Sungai Burung, Mashuri dengan Pemkab Tulangbawang melalui BPBD setempat, hasilnya, 21 April 2021, Kepala Balai Besar Wilayah Mesuji dan Sekampung Abdul Aziz beserta rombongan telah turun ke lokasi, guna meninjau kondisi abrasi yang terjadi.

Kepala BPBD Kabupaten Tulangbawang Kanedy, menjelaskan, bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi bencana yang perlahan terjadi dan dirasakan masyarakat Kampung Sungai Burung.

“Untuk itu, semoga kedepan bisa dapat terealisasi, dan keluhan masyarakat Kampung Sungai Burung, Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulangbawang, dapat kita antisipasi, sehingga ekonomi dan kehidupan masyarakat yang majemuk dapat terus terjalin,” harap Kepala BPBD Kabupaten Tulangbawang.

Diberitakan sebelumnya, Kampung Sungai Burung, Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulangbawang, terancam abrasi dan hilang tenggelam, hal ini akibat dari turunnya permukaan tanah disekitar pemukim masyarakat yang berbeda di Pesisir Pantai Timur Kabupaten Tulangbawang.

Meski Pemerintah Kampung setempat telah berupaya semaksimal mungkin, dengan menanam pohon mangrove dan pohon bakau, namun upaya tersebut masih jauh dari harapan, kerusakan semakin parah akibat air laut pasang tinggi dan gelombang besar di sekitar Pesisir Pantai Kabupaten Tulangbawang.

Padahal, Kampung Sungai Burung merupakan penghasilan Rajungan, Kerang Dara, Udang dan Ikan, yang setiap harinya dikirim keluar daerah Lampung, bahkan luar negeri.

Pemerintah Kampung dan sejumlah tokoh masyarakat setempat, saat ini meminta kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Tulangbawang, Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Pusat, agar dapat membantu mencari solusi upaya penyelamatan Kampung Sungai Burung.

Sekertaris Kampung Sungai Burung Mashuri, berharap kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Tulang Bawang, Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Pusat, agar dapat membangun tanggul pemecah ombak (break water) guna mencegah terjangan ombak masuk ke perkampungan dan merusak rumah warga dimana saat ini pesisir pantai kondisinya rusak parah, dan merendam fasilitas Kampung serta sekolah.

“Kami berharap adanya pembangunan tanggul pemecah ombak (break water) disepanjang bibir pantai Kampung Sungai Burung, hal itu sangat penting, karena fungsinya untuk pelindung pemukiman warga,” terangnya.

Jika Kampung ini sampai hilang, Mashuri menambahkan, maka penduduk di Kampung Sungai Burung yang saat ini sekitar sebanyak 360 Kepala Keluarga, dan merupakan nelayan tangkap dan petambak budidaya, akan kehilangan tempat tinggal.

“Padahal, untuk komoditi hasil laut di Kampung Sungai Burung, cukup tinggi, dimana perharinya para nelayan di Kampung ini, dapat menghasilkan tangkapnya seperti Udang 2 ton /perharinya, ikan 2,5 ton/ hari, Kerang Dara 2,5 ton /perharinya dan rajungan 1,5 ton /perharinya dengan perputaran uang perharinya mencapai Rp.240.000.000,- sampai dengan Rp.250.000.000,- tentunya hal itu nilai yang tidak kecil bukan, dalam perputaran dan pertumbuhan ekonomi di sebuah Kampung, maka dari itu, saya berharap ini menjadi pertimbangan bagi Pemerintah guna dapat membantu membangun apa yang menjadi persoalan masyarakat kami,” terang Mashuri.

Hal inilah, lanjut Mashuri, mengapa pihaknya dan Pemerintah Kampung berharap adanya peran serta Pemerintah Daerah Kabupaten Tulangbawang, Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Pusat, untuk dapat segera menangani kerusakan Kampung Sungai Burung, mengingat Kampung ini sangat tinggi penghasil komoditi lautnya.

“Dengan dibangunnya tanggul pemecah ombak (break water), secara otomatis penerimaan manfaat bukan hanya Kampung Sungai Burung saja, namun ada dua Kampung juga yang merasakan manfaat dari pembangunan tersebut, yakni Kampung Bratasena Adiwarna dan Kampung Bratasena Mandiri, dimana kedua Kampung tersebut tepat dibelakang Kampung Sungai Burung, dimana kedua Kampung tersebut penghasil udang berkualitas di Provinsi Lampung,” terang Mashuri.

(Joni Putra)

Kabar Nusantara Online